ABORSI

DEFINISI

Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang
dari 26 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Atau buah kehamilan belum
mampu untuk hidup diluar kandungan.

ETIOLOGI
Pada kehamilan muda abortus tidak jarang didahului oleh kematian mudigah.
Sebaliknya pada kehamilan lebih lanjut biasanya janin dikeluarkan dalam keadaan
masih hidup. Hal-hal yang menyebabkan abortus dapat disebabkan oleh hal-hal
berikut ini:
a. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian janin atau
cacat kelainan berat biasanya menyebabkan kematian mudigah pada hamil
muda. Faktor-faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan ialah
sebagai berikut:
– Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X.
– Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna.
– Pengaruh dari luar akibat radiasi, virus, obat-obatan.
b. Kelainan pada plasenta misalnya endarteritis dapat terjadi dalam villi koriales
dan menyebabkan oksigenisasi plasenta terganggu, sehingga menyebabkan
gangguan pertumbuhan dan kematian janin.
c. Penyakit Ibu
Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, anemia berat, dan
keracunan.
d. Kelainan Traktus Genetalis
Mioma uteri, kelainan bawaan uterus dapat menyebabkan abortus. Sebab lain
abortus dalam trisemester ke 2 ialah servik inkompeten yang dapat disebabkan
oleh kelemahan bawaan pada serviks, dilatari serviks berlebihan, konisasi,
amputasi atau robekan serviks luar yang tidak dijahit.
5
3. PATOGENESIS
Pada awal abortus terjadi pendarahan dalam desidua basalis, kemudian diikuti
oleh nekrosis jaringan disekitarnya yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan
dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk
mengeluarkan benda asing tersebut. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu vili
korialis belum menembus desidua secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan
seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu penembusan sudah lebih dalam
hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak pendarahan.
Pada kehamilan lebih 14 minggu, janin dikeluarkan lebih dahulu dari pada
plasenta. Pendarahan tidak banyak jika plasenta segera dilepas dengan lengkap.
Peristiwa abortus ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniatur. Hasil konsepsi
pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada kalanya kantong amnion
kosong atau tampak kecil tanpa bentuk yang jelas, mungkin pula janin telah mati
lama, mola kruenta, maserasi, fetus kompresus.
4. MANIFESTASI KLINIK
Manifestasi klinik abortus antara lain:
– Terlambat haid atau amenote kurang dari 20 minggu
– Pada pemeriksaan fisik: keadaan umum tampak lemah atau kesadaran
menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau
cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
– Pendarahan pervaginaan, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil
konsepsi.
– Rasa mulas atau keram perut didaerah atas simfisis, sering disertai nyeri
pinggang akibat kontraksi uterus.
– Pemeriksaan Ginekologi
a. Inspeksi Vulva: Pendarahan pervaginaan ada atau tidaknya jaringan
hasil konsepsi, tercium atau tidak bau busuk dari vulva.
b. Inspekulo: Pendarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah
tertutup ada atau tidaknya jaringan keluar dari ostium, ada atau tidaknya
cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.
c. Colok Vagina: Porsio terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak
jaringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia
kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan
adneksa, kaum douglasi tidak menonjol dan tidak nyeri.
6
5. DIAGNOSA
Diagnosa meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan status psikiatri,
pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesa
Anamnesa dilakukan untuk mencari etiologi dari abortus. Dengan
anamnesa yang telita dan menjurus maka akan dikembangkan. Pemikiran
mengenai pemeriksaan selanjutnya yang dapat memperkuat dugaan kita
pada suatu etiologi yang mendasari terjadinya abortus. Hal ini akan
berpengaruh juga pada rencana terapi yang akan dilakukan sesuai dengan
etologinya.
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi status interna umum status obstetri.
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan manifestasi klinis yang
mengarah pada suatu gejala abortus seperti yang sudah dijelaskan diatas.
3. Pemeriksaan Penunjang
A. Pemeriksaan laboratorium darah lengkap, hematokrit, golongan
darah, serta reaksi silang analisis gas darah, kultur darah,
terresistensi.
B. Tes kehamilan: positif jika janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu
setelah abortus.
C. Pemeriksaan dopler atau USG untuk menentukan apakah janin
masih hidup.
D. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion.
6. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan diberikan sesuai dengan etiologi yang mendasari timbulnya
suatu abortus.
Penatalaksanaan Umum:
– Istirahat baring, tidur berbaring merupakan unsur penting dalam
pengobatan, karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke
uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.
– Pada kehamilan lebih dari 12 minggu diberikan infus oksitosin dimulai 8
tetes permenit dan naikkan sesuai kontraksi uterus.
– Bila pasien syok karena pendarahan berikan infus ringer taktat dan selekas
mungkin tranfusi darah.
7
Medikamentosa:
1. Simptomatik : Analgesic (a5, metenamat)
500 gram (3×1)
2. Antibiotik : Amoksilin 500 mg (3×1)
3. Education : Kontrol 3-4 hari setelah keluar
setelah keluar dari rumah sakit.
6. PROGNOSA
Mayoritas pada penderita yang mengalami abortus mempunyai prognosa yang
tergantung pada cepat atau tidaknya kita mendiagnosa dan mencari etiologinya.
Komplikasi yang sering ditimbulkan antara lain adalah:
– Pendarahan
– Perforasi
– Syok, infeksi
– Pada Missed abortion dengan refensi lama hasil konsepsi dapat
terjadi kelainan pembekuan darah.

makalah demokrasi di indonesia

MAKALAH

DEMOKRASI di INDONESIA

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

Eftina Nurul Aeni

1211030048

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEBIDANAN DIII

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

2012-2013

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Alloh swt, yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas ini dengan tepat  waktu tanpa halangan suatu apapun.

Solawat dan salam semoga selalu tercurahkan pada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, serta kepada keluarga, para sahabat, tabiin dan semua kaum muslim yang senantiasa menjalankan sunah-sunahnya hingga akhir zaman.

Tujuan saya membuat makalah ini sebagai tambahan referensi bagi pembaca tentang DEMOKRASI di INDONESIA.

Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, hal itu dikarenakan keterbatasan yang ada bagi penulis .Sehingga penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca.

Kiranya makalah ini memberikan banyak manfaat bagi kehidupan kita semua. Sehingga permasalahan demokrasi di Indonesia dapat di tegakkan. Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

 

 

 

 

Purwokerto, Juni 2013

Penyusun

 

 

Eftina Nurul Aeni

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

Hampir semua negara di dunia menyakini demokrasi sebagai “tolak ukur tak terbantah dari keabsahan politik”. Keyakinan bahwa kehendak rakyat adalah dasar utama kewenangan pemerintah menjadi basis bagi tegak kokohnya sistem politik demokrasi. Hal itu menunjukan bahwa rakyat di letakkan pada posisi penting walaupun secara operasional implikasinya diberbagai negara tidak selalu sama. Tidak ada negara yang ingin dikatakan sebagai negara yang tidak demokratis atau negara otoriter.

Menurut Robert Dahl pandangan Yunani tentang demokrasi, bahwa warga Negara adalah pribadi yang utuh yang baginya politik adalah aktivitas social yang alami dan tidak terpisah secara tegas dari bidang kehidupan lain. Nilai-nilai tidak terpecah tetapi terpadu karena itu mereka aktif dalam kegiatan politik. Namun dalam prakteknya pula demokrasi Yunani dalam hal kewarganegaraannya merupakan hal yang eksklusif, bukan inklusif. Persyaratan kewargaanegaraan adalah kedua orang tua harus warga Athena asli. Jika orang asing aktif dan memberikan sumbangan besar pada kehidupan ekonomi dan intelektual akan mendapat status tertentu.

.Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan politik yangkekuasaan  pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan). Istilah ini berasal dari yunani (dēmokratía) “kekuasaan rakyat”, yang dibentuk dari kata (dêmos) “rakyat” dan (kratos)”kekuasaan”, merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di Yunani kuno khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM.

 

B. Tujuan

Makalah ini ditulis bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan tentang demokrasi.

 

C. Rumusan Masalah

1. Apa yang di maksud dengan demokrasi?

2. Bagaimana demokrasi di Indonesia pada masa pra orde baru?

3. Bagaimana demokrasi di Indonesia pada masa orde baru?

4. Bagaimana demokrasi di Indonesia pada masa reformasi?

Apa yang menyebabkan kegagalan demokrasi di In

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Pengertian Demokrasi Menurut para Ahli

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi baik secara langsung atau mealalui perwakilan dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan  adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.

 

B. Jenis–Jenis Demokrasi

Menurut cara penyaluran kehendak rakyat, demokrasi dibedakan atas :

1)      Demokrasi Langsung

2)      Demokrasi Tidak Langsung

Menurut dasar prinsip ideologi, demokrasi dibedakan atas :

1)      Demokrasi Konstitusional (Demokrasi Liberal)

2)      Demokrasi Rakyat (Demokrasi Proletar)

Menurut dasar yang menjadi titik perhatian atau prioritasnya, demokrasi dibedakan  atas : 

1)      Demokrasi Formal

2)      Demokrasi Material

3)      Demokrasi Campuran

Menurut dasar wewenang dan hubungan antara alat kelengkapan negara, demokrasi dibedakan atas :

1)      Demokrasi Sistem Parlementer

2)      Demokrasi Sistem Presidensial

 

C. Demokrasi PraOrde Baru

Semenjak dikeluarkannya maklumat wakil presiden No. X 3 november 1945, yang menganjurkan pembentukan partai-partai politik, perkembangan demokrasi dalam masa revolusi dan demokrasi pearlementer dicirikan oleh distribusi kekuasaan yang khas. Presiden Soekarno ditempatkan sebagai pemilik kekuasaan simbolik dan ceremonial, sementara kekuasaan pemerintah yang riil dimiliki oleh Perdana Menteri, Kabinet dan, Parlemen.

Periode demokrasi terpimpin ini  secara dini dimulai dengan terbentuknya  Zaken Kabinet pimpinan Ir. Juanda pada 9 April 1957, dan menjadi tegas setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Kekuasaan menjadi tersentral di tangan presiden, dan secara signifikan diimbangi dengan peran PKI dan Angkatan Darat. Kekuatan-kekuatan Suprastruktur dan infrastruktur  politik dikendalikan  secara hampir penuh oleh presiden. Dengan ambisi yang besar PKI mulai menmperluas kekuatannya sehingga terjadi kudeta oleh PKI yang akhirnya gagal di penghujung September 1965, kemudian mulailah pada massa orde baru.

 

Perkembangan Demokrasi Masa Revolusi Kemerdekaan.

Implementasi demokrasi pada masa pemerintahan revolusi kemerdekaan  baru terbatas pada interaksi  politik diparlemen dan berfungsinya pers yang mendukung revolusi kemerdekaan. Meskipun tidak banyak catatan sejarah yang menyangkut perkembangan demokrasi pada periode ini, akan tetapi pada periode tersebut telah diletakkan hal-hal mendasar. Pertama, pemberian hak-hak politik secara menyeluruh. Kedua, presiden yang secara konstitusional ada kemungkinan untuk menjadi dictator. Ketiga, dengan maklumat Wakil Presiden, maka dimungkinkan terbentuknya sejumlah partai politik yang kemudian menjadi peletak dasar bagi system kepartaian di Indonesia untuk masa-masa selanjutnya dalam sejarah kehidupan politik kita.

 

Perkembangan demokrasi  parlementer (1945-1959)

Periode kedua pemerintahan negara Indonesia adalah tahun 1950 sampai 1959, dengan menggunakan UUD Sementara (UUDS) sebagai landasan konstitusionalnya. Pada masa ini adalah masa kejayaan demokrasi di Indonesia, karena hampir semua elemen demokrasi dapat ditemukan dalam perwujudan kehidupan politik di Indonesia. Lembaga perwakilan rakyat atau parlemen memainkan peranan yang sangat tinggi dalam proses politik yang berjalan. Perwujudan kekuasaan parlemen ini diperlihatkan dengan adanya sejumlah mosi tidak percaya kepad pihak pemerintah  yang mengakibatkan kabinet harus meletakkan jabatannya. Sejumlah kasus jatuhnya kabinet dalam periode ini  merupakan contoh konkret  dari tingginya akuntabilitas pemegang jabatan dan politisi. Ada hampir 40 partai yang terbentuk dengan tingkat otonomi yang tinggi  dalam proses rekruitmen baik pengurus, atau pimpinan partainya maupun para pendukungnya.

Demokrasi parlementer gagal karena (1) dominannya politik aliran, sehingga membawa konsekuensi terhadap pengelolaan konflik; (2) basis sosial ekonomi yang masih sangat lemah;(3) persamaan kepentingan antara presiden Soekarno dengan kalangan Angkatan Darat, yang sama-sama tidak senang dengan proses politik yang  berjalan.

 

Perkembangan Demokrasi Terpimpin (1959-1965)

Sejak berakhirnya pemillihan umum 1955, presiden Soekarno sudah menunjukkan gejala ketidaksenangannya kepada partai-partai politik. Hal itu terjadi karena partai politik sangat orientasi pada kepentingan ideologinya sendiri dan dan kurang memperhatikan kepentingan politik nasional secara menyeluruh.disamping itu Soekarno melontarkan gagasan bahwa demokrasi parlementer tidak sesuai dengan kepribadian bangsa indonesia yang dijiwai oleh semangat kekeluargaan dan gotong royong.

Politik pada masa ini diwarnai oleh tolak ukur yang sangat kuat antara ketiga kekuatan politik yang utama  pada waktu itu, yaitu: presiden Soekarno, Partai Komunis Indonesia, dan Angkatan Darat. Karakteristik yang utama dari demokrasi terpimpin adalah: menggabungkan sistem kepartaian, dengan terbentuknya DPR-GR peranan lembaga legislatif dalam sistem politik nasionall menjadi sedemikian lemah, Basic Human Right menjadi sangat lemah, masa demokrasi terpimpin adalah masa puncak dari semnagt anti kebebasan pers, sentralisasi kekuasaan semakin dominan dalam proses hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah.

Kekeliruan yang besar dalam Demokrasi Terpimpin Soekarno adalah adanya pengingkaran terhadap nilai-nilai demokrasi yaitu absolutisme dan terpusatnya kekuasaan hanya pada diri pemimpin. Selain itu, tidak ada ruang kontrol sosial dan check and balance dari legislatif terhadap eksekutif. (Sunarso, dkk. 2008:132-136).

 

D. Demokrasi dalam Masa Pemerintahan Orde Baru

Tahun-tahun awal pemerintahan Orde Baru ditandai oleh adanya kebebasan politik yang besar. Presiden Soeharto yang menggantikan Ir. Soekarno sebagai Presiden ke-2 RI dan menerapkan model Demokrasi yang berbeda lagi, yaitu dinamakan Demokrasi Pancasila (Orba), untuk menegaskan klaim bahwasanya model demokrasi inilah yang sesungguhnya sesuai dengan ideologi negara Pancasila. Dalam masa yang tidak lebih dari tiga tahun ini, kekuasaan seolah-olah akan didistribusikan kepada kekuatan masyarakatan. Oleh karena itu pada kalangan elit perkotaan dan organisasi sosial politik yang siap menyambut pemilu 1971, tumbuh gairah besar untuk berpartisipasi mendukung program-program pembaruan pemerintahan baru.

Perkembangan yang terlihat adalah semakin lebarnya kesenjangan antara kekuasaan negara dengan masyarakat. Negara Orde Baru mewujudkan dirinya sebagai kekuatan yang kuat dan relatif otonom, dan sementara masyarakat semakin teralienasi dari lingkungan kekuasaan danproses formulasi kebijakan. Kedaan ini adalah dampak dari (1) kemenangan mutlak dari kemenangan Golkar dalam pemilu yang memberi legitimasi politik yangkuat kepada negara; (2) dijalankannya regulasi-regulasi politik semacam birokratisasai, depolitisasai, dan institusionalisasi; (3) dipakai pendekatan keamanan; (4) intervensi negara terhadap perekonomian dan pasar yang memberikan keleluasaan kepda negara untuk mengakumulasikan modal dan kekuatan ekonomi; (5) tersedianya sumber biaya pembangunan, baik dari eksploitasi minyak bumi dan gas serta dari komoditas nonmigas dan pajak domestik, mauppun yang berasal dari bantuan luar negeri, dan akhirnya (6) sukses negara orde baru dalam menjalankan kebijakan pemenuhan kebutuhan pokok rakya sehingga menyumbat gejolak masyarakat yang potensinya muncul karena sebab struktural.

Pemberontakan G-30-S/PKI merupaka titik kulminasi dari pertarungan atau tarik tambang politik antara Soekarno, Angkatan Darat, dan Partai Komunisme Indonesia.  Ciri-ciri demokrasi pada periode Orde Lama antara lain presiden sangat mendominasi pemerintahan, terbatasnya peran partai politik, berkembangnya pengaruh komunis, dan meluasnya peranan ABRI sebagai unsur sosial politik. Menurut M. Rusli Karim, rezim Orde Baru ditandai oleh; dominannya peranan ABRI, birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan politik, pembatasan peran dan fungsi partai politik, campur tangan pemerintah dalam persoalan partai politik dan publik, masa mengambang, monolitisasi ideologi negara, dan inkorporasi lembaga nonpemerintah. Beberapa karakteristik pada masa orde baru antara lain: Pertama, rotasi kekuasaan eksekutif boleh dikatakan hamper ridak pernah terjadi. Kedua, rekruitmen politik bersifat tertutup. Ketiga, PemilihanUmum. Keempat, pelaksanaan hak dasar waega Negara. (Rukiyati, dkk. 2008:114-117)

 

E. Demokrasi Pada Masa Reformasi (1998 Sampai Dengan Sekarang)

Dalam masa pemerintahan Habibie inilah muncul beberapa indicator kedemokrasian di Indonesia. Pertama, diberikannya ruang kebebasan pers sebagai ruang publik untuk berpartisipasi dalam kebangsaan dan kenegaraan. Kedua, diberlakunya system multi partai dalam pemilu tahun 1999.

Demokrasi yang diterapkan Negara kita pada era reformasi ini adalah demokresi Pancasila, tentu saja dengan karakteristik tang berbeda dengan orde baru dan sedikit mirip dengan demokrasi perlementer tahun 1950-1959. Pertama, Pemilu yang dilaksanakan (1999-2004) jauh lebih demokratis dari yang sebelumnya. Kedua, ritasi kekuasaan dilaksanakan dari mulai pemerintahan pusat sampi pada tingkat desa. Ketiga, pola rekruitmen politik untuk pengisian jabatan politik dilakukan secara terbuka. Keempat, sebagian besar hak dasar bisa terjamin seperti adanya kebebasan menyatakan pendapat.

 

F. Kegagalan Demokrasi di Indonesia

Indonesia tengah dilanda berbagai masalah yang kompleks. Sistem demokrasi yang seyogyanya menghasilkan masyarakat yang bebas dan sejahtera, tidak terlihat hasilnya, malah kenyataannya bertolak belakang. Berikut ini adalah beberapa fenomena kegagalan demokrasi di Indonesia.

       1. Presiden tidak cukup kuat untuk menjalankan kebijakannya. Presiden  dipilih langsung oleh rakyat. Ini membuat posisi presiden presiden kuat dalam arti  sulit untuk digulingkan.

Namun, di parlemen tidak terdapat partai yang dominan, termasuk partai yang mengusung pemerintah. Ditambah lagi peran lagislatif yang besar pasca reformasi ini dalam menentukan banyak kebijakan presiden. Dalam memberhentikan menteri misalnya, presiden sulit untuk memberhentikan materi karena partai yang “mengutus”menteri tersebut akan menarik dukungannya dari pemerintahan dan tentunya akan semakin memperlemah pemerintah. Hal ini membuat presiden sulit mengambil langkah kebijakannya dan mudah di-“setir” oleh partai.

         2. Rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat justru di tengah kebebasan

demokrasi. Tingkat kesejahteraan menurun setelah reformasi, yang justru saat itulah  dimulainya kebebasan berekspresi, berpendapat, dll. Ini aneh mengingat sebenarnya t ujuan dari politik adalah kesejahteraan. Demokrasi atau sistem politik lainnya  hanyalah sebuah alat. Begitu pula dengan kebebasan dalam alam demokrasi,  hanyalah alat untuk mencapai kesejahteraan.

3. Tidak berjalannya fungsi partai politik. Fungsi partai politik paling tidak ada tiga: penyalur aspirasi rakyat, pemusatan kepentingan-kepentingan yang sama, dan sarana pendidikan politik masyarakat. Selama ini dapat dikatakan ketiganya tidak berjalan. Partai politik lebih mementingkan kekuasaan daripada aspirasi rakyat.

Fungsi partai politik sebagai pemusatan kepentingan-kepentingan yang sama pun tidak berjalan mengingat tidak adanya partai politik yang konsisten dengan ideologinya. Partai politik sebagai sarana pendidikan politik masyarakat lebih parah. Kita melihat partai mengambil suara dari masyarakat bukan dengan pencerdasan terhadap visi, program partai, atau kaderisasi. Melainkan dengan uang, artis, kaos, yang sama sekali tidak mencerdaskan malah membodohi masyarakat.

4. Ketidakstabilan kepemimpinan nasional. Jika kita cermati, semua pemimpin bangsa ini mualai dari Soekarno sampai Gus Dur, tidak ada yang kepemimpinannya berakhir dengan bahagia. Semua berakhir tragis alias diturunkan. Ini sebenarnya merupakan dampak dari tidak adanya pendidikan politik bagi masyarakat. Budaya masyarakat Indonesia tentang pemimpinnya adalah mengharapkan hadirnya “Ratu Adil” yang akan menyelesaikan semua masalah mereka. Ini bodoh. Masyarakat tidak diajari bagaimana merasionalisasikan harapan-harapan mereka. Mereka tidak diajarkan tentang proses dalam merealisasikan harapan dan tujuan nasional.

Hal ini diperburuk dengan sistem pemilihan pemimpin yang ada sekarang (setelah otonomi), termasuk pemilihan kepala daerah yang menghabiskan biaya yang mahal. Calon pemimpin yang berkualitas namun tidak berduit akan kalah populer dengan calon yang tidak berkualitas namun memiliki uang yang cukup untuk kampanye besar-besaran, memasang foto wajah mereka besar-besar di setiap perempatan. Masyarakat yang tidak terdidik tidak dapat memilih pemimpin berdasarkan value.

5. Birokrasi yang politis, KKN, dan berbelit-belit. Birokrasi semasa orde baru sangat politis. Setiap PNS itu Korpri dan wadah Korpri adalah Golkar. Jadi sama saja dengan PNS itu Golkar. Ini berbahaya karena birokrasi merupakan wilayah eksekusi kebijakan. Jika birokrasi tidak netral, maka jika suatu saat partai lain yang memegang pucuk kebijakan, maka dia akan sulit dalam menjalankan kebijakannya karena birokrasi yang seharusnya menjalankan kebijakan tersebut memihak pada partai lain. Aknibatnya kebijakan tinggal kebijakan dan tidak terlaksana. Leibih parahnya, ini dapat memicu reformasi birokrasi besar-besaran setiap kali ada pergantian kepemimpinan dan tentunya ini bukanlah hal yang baik untuk stabilitas pemerintahan. Maka seharusnya birokrasi itu netral.

Banyak sekali kasus KKN dalam birokrasi. Contoh kecil adalah pungli, suap, dll. Ini menjadi bahaya laten karena menimbulkan ketidakpercayaan yang akut dari masyarakat kepada pemerintah. Selain itu berdampak pula pada iklim investasi. Investor tidak berminat untuk berinvestasi karena adanya kapitalisasi birokrasi.

Hal di atas mendorong pada birokrasi yang tidak rasional. Kinerja menjadi tidak professional, urusan dipersulit, dsb. Prinsip yang digunakan adalah “jika bisa dipersulit, buat apa dipermudah”.

6. Banyaknya ancaman separatisme. Misalnya Aceh, Papua, RMS, dll. Ini merupakan dampak dari dianaktirikannya daerah-daerah tersebut semasa orde baru, yang tentunya adalah kesalahan pemerintah dalam “mengurus anak”. Tentunya ini membuat ketahanan nasional Indonesia menjadi lemah, mudah diadu domba, terkurasnya energi bangsa ini, dan mudah dipengaruhi kepentingan asing.

 

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa demokrasi di Indonesia sudah beberapa kali mengalami perubahan yakni dari mulai pada masa demokrasi pra orde baru, demokrasi pada masa orde baru, sampai demokrasi pada masa reformasi. Demokrasi pada era reformasi ini adalah demokrasi yang masih sampai saat ini dipakai oleh Indonesia. Demokrasi pada era reformasi yang di cetuskan oleh BJ.Habibi ini adalah demokrasi pancasila yang tentu berbeda dengan karakteristik tang berbeda dengan orde baru dan sedikit mirip dengan demokrasi perlementer tahun 1950-1959.

Namun pada saat ini Indonesia tengah dilanda masalah yang kompleks karena sistem demokrasi yang seharusnya menghasilkan masyarakat yang bebas dan sejahtera, tidak terlihat hasilnya, malah kenyataannya bertolak belakang.

 

B. Saran

Menciptakan negara yang berdemokrasi yang baik yang dapat menjalankan kewajibannya terhadap rakyat memang tak semudah mengembalikan telapak tangan namun kita sebagai warga negara Indonesia harus tetap berusaha ikut berpartisipasi dalam melakukan pergerakan agar dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdemokratis dan tidak merugikan rakyat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi

Aim Abdulkarim, “Pendidikan Kewarganegaraan: Membangun Warga Negara yang Demokratis”, PT Grafindo Media Pratama.

 

post partum

PERDARAHAN POST PARTUM
 
BATASAN
Perdarahan post partum adalah perdarahan yang melebihi 500 ml (pada persalinan pervaginam) atau melebihi 1000 ml (pada persalinan dengan bedah sesar) yang terjadi setelah bayi lahir (Williams Obstetrics menggunakan batasan perdarahan yang terjadi setelah kala III lengkap). Perdarahan post partum dapat mulai terjadi sebelum maupun setelah terlepasnya plasenta. Disebut perdarahan post partum primer jika perdarahan post partum terjadi dalam 24 jam, jika terjadi setelah 24 jam tetapi sebelum 12 minggu post partum disebut perdarahan post partum sekunder.
Untuk kepentingan klinik, setiap kehilangan darah yang berpotensi menyebabkan instabilitas hemodinamik ibu harus dianggap sebagai perdarahan post partum.
 
PATOFISIOLOGI
Secara normal, setelah bayi lahir uterus akan mengecil secara mendadak dan akan berkontraksi untuk melahirkan plasenta, menghentikan perdarahan yang terjadi pada bekas insersi plasenta dengan menjepit pembuluh darah (disebut “living ligatures of the uterus”) pada tempat tersebut. Apabila mekanisme ini tidak terjadi atau terdapat sesuatu yang menghambat mekanisme ini (adanya sisa plasenta, adanya selaput plasenta yang tertinggal, adanya bekuan darah, dsb.) akan terjadi perdarahan akibat lumen pembuluh darah pada bekas insersi plasenta tidak tertutup atau tertutup tidak optimal. Perdarahan juga dpat terjadi akibat adanya robekan pada jalan lahir, dan gangguan pembekuan darah.
 
GEJALA KLINIS
Penyebab terjadinya perdarahan post partum, secara mudah adalah 4-T:
a)      Tonus        : atonia uteri, kandung kemih yang over distensi.
b)      Tissue        : retensi plasenta (sisa plasenta) dan bekuan darah.
c)      Trauma      : perlukaan pada vagina, serviks, atau uterus.
d)     Trombin    : gangguan pembekuan darah (bawaan atau didapat).
 
FAKTOR RISIKO
Faktor risiko untuk terjdinya perdarahan post partum adalah: kehamilan pertama kali, ibu gemuk, bayi besar, kehamilan kembar, persalinan lama atau persalinan dengan augmentasi, dan perdarahan antepartum. Paritas tinggi bukan faktor risiko yang kuat. Yang penting untuk diingat adalah: perdarahan post partum primer bahkan sering terjadi pada wanita risiko rendah, yang sering tidak diperkirakan.
 
PENGELOLAAN PERDARAHAN POST PARTUM PRIMER
a)      Mintalah bantuan apabila menghadapi kejadian ini (perlu pendekatan multidisipliner). Pasanglah infus dengan jarum besar (jika belum terpasang) untuk menjamin sirkulasi yang adekuat dan untuk memudahkan memasukkan obat-obatan, sebelum sirkulasi menjadi kolaps.
b)      Lakukan pijat uterus (masase uterus) sampai berkontraksi baik. Banyak bukti yang mendukung bahwa “masase uterus” dapat mencegah terjadinya perdarahan post partum akibat atonia uterus.
c)      Identifikasi adanya laserasi jalan lahir dan lakukan perbaikan. Tempatkan jahitan pertama kali setidaknya 1 cm di atas ujung luka. Lakukan pengamatan daerah yang akan dijahit dengan adekuat, jika perlu penjahitan dilakukan di kamar operasi.
d)     Lakukan eksplorasi rongga rahim untuk memastikan tidak adanya laserasi uterus dan menjamin tidak adanya sisa plasenta dan bekuan darah dalam rongga rahim.
e)      Ambilah contoh darah untuk pemeriksaan darah lengkap dan jumlah trombosit, golongan darah, fibrinogen, produk-produk pemecahan fibrin, prothrombin time, dan partial prothrombin time.
f)       Berikan uterotonika:
1)      Oksitosin 20 – 80 UI dalam 1000 cc NaCl / RL secara drip. Pemberian 20 U oksitosin dalam 1000 ml NaCl / RL cukup efektif jika diberikan dengan secara drip dengan dosis 10 ml/ menit (20 mU oksitosin per menit) yang disertai dengan masase uterus yang efektif; dan atau
2)      Misoprostol 800 – 1000 ug (4 – 5 tablet) secara rektal. Misoprostol dapat diberikan sebagai alternatif pada persalinan pervaginam jika oksitosin tidak tersedia.
3)      Methil ergometrin 0,2 mg secara IM (jangan diberikan pada penderita darah tinggi) setiap 2 – 4 jam, dan atau
4)      Carboprost tromethamine (jika tersedia) 0,25 mg IM setiap 15 – 90 menit. Dosis maksimal 2 mg (jangan diberikan pada penderita asthma).
Pemberian misoprostol 800 ug secara rektal biasanya dipergunakan sebagai “obat lini pertama” untuk pengelolaan perdarahan post partum, oleh karena secara bermakna menurunkan risiko kemungkinan tetap adanya perdarahan setelah intervensi. Akan tetapi tidak ada cukup bukti untuk menunjukkan bahwa misoprostol lebih baik dibanding dengan kombinasi oksitosin dan ergometrin saja dalam pengelolaan perdarahan post partum.  Juga tidak cukup bukti untuk menentukan kombinasi obat terbaik, cara pemberian, dan dosis obat dalam pengelolaan perdarahan post partum.
g)      Pasang kateter menetap untuk memantau produksi urine.
h)      Jika dicurigai adanya retensi sisa plasenta, dapat dilakukan kuretase.
i)        Jika diperlukan dapat diberikan transfusi darah dan produk darah.
j)        Tetap monitor penderita, jangan ditinggalkan sendirian.
 
PENGELOLAAN PERDARAHAN POST PARTUM SEKUNDER
Sampai saat ini tidak ada informasi penelitian secara RCTs (randomised controlled trials) untuk pengelolaan perdarahan post partum sekunder.
 
PADA KASUS TIDAK RESPONSIF TERHADAP OXYTOCIN
Perdarahan yang masih tetap berlangsung setelah pemberian oksitosin berulangkali, mungkin disebabkan oleh adanya laserasi jalan lahir. Segera lakukan langkah-langkah yang berikut:
1)      Lakukan kompresi bimanual.
2)      Cari bantuan tenaga.
3)      Pasang infus jalur ke dua dengan jarum yang besar, sehingga drip oksitosin tetap dapat diberikan, dan dapat diberikan cairan lain/darah melalui infus yang ke dua. Oleh karenanya setiap pasien obstetri harus diketahui golongan darahnya sebelum persalinan. Pada kondisi sangat darurat, golongan darah “O” dengan golongan “Rhesus Negatif” dapat diberikan.
4)      Lakukan ekplorasi rongga rahim kembali untuk memastikan tidak adanya sisa plasenta, tidak adanya bekuan darah, dan laserasi uterus/robekan uterus.
5)      Lakukan eksplorasi jalan lahir untuk memastikan tidak adanya robekan serviks dan vagina. Lakukan penjahitan secara benar jika ditemukan laserasi jalan lahir.
6)      Lakukan pemasangan kateter menetap untuk memantau produksi urine.
7)      Pada kasus yang tetap tidak memberikan respon terapi dengan langkah-langkah di atas, pertimbangkan untuk melakukan intervensi pembedahan. Tindakan yang dapat dilakukan: mengikat arteria uterina, mengikat arteria iliaka interna, melakukan kompresi uterus dengan tehnik B-Lynch, penggunaan tampon uterus atau dengan mempergunakan Foley kateter 24F yang kemudian diisi dengan 60 – 80 NaCl (pada penderita yang menginginkan  fertilitasnya dipertahankan). Tindakan tersebut dapat dikombinasikan sebelum memutuskan untuk melakukan histerektomi.
 
PENYULIT
Penyulit yang dapat terjadi pada perdarahan post partum adalah: syok hipovolemik, DIC, gagal ginjal, gagal hati, ARDS, dan kematian penderita.
 


DAFTAR PUSTAKA
1.      Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY. Obstetrical hemmorrhage. In: Williams Obstetric. 23rd Ed. McGrawHill Medical, New York, 2010.
2.      Crawford JT, Tolosa JE. Abnormal third stage of labor. In: Berghella V. Obstetric evidence based guidelines. Series in Maternal Fetal Medicine. Informa healthcare, UK, 2007.

asfiksia neonatarum

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-language:EN-US;}

  1. Definisi Asfiksia neonatorum

Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Asfiksia berarti hipoksia yang progresif karena gangguan pertukaran gas serta transport O2 dari ibu ke janin sehingga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dan kesulitan mengeluarkan CO2, saat janin di uterus hipoksia.

  1. Etiologi Asfiksia neonatorum

Faktor ibu

  1. Cacat bawaan
  2. Hipoventilasi selama anastesi
  3. Penyakit jantung sianosis
  4. Gagal bernafas
  5. Keracunan CO
  6. Tekanan darah rendah
  7. Gangguan kontraksi uterus
  8. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
  9. Sosial ekonomi rendah
  10. Hipertensi pada penyakit eklampsia

Faktor janin / neonatorum

  1. Kompresi umbilikus
  2. Tali pusat menumbung, lilitan tali pusat
  3. Kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir
  4. Prematur
  5. Gemeli
  6. Kelainan congential
  7. Pemakaian obat anestesi
  8. Trauma yang terjadi akibat persalinan

Faktor plasenta

  1. Plasenta tipis
  2. Plasenta kecil
  3. Plasenta tidak menempel
  4. Solusio plasenta

Faktor persalinan

  1. Partus lama
  2. Partus tindakan
  3. Patofisiologi Asfiksia neonatorum

Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkutan O2 selama kehamilan / persalinan, akan terjadi asfiksia. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian. Kerusakan dan gangguan ini dapat reversible atau tidak tergantung dari berat badan dan lamanya asfiksia. Asfiksia ringan yang terjadi dimulai dengan suatu periode appnoe, disertai penurunan frekuensi jantung. Selanjutnya bayi akan menunjukan usaha nafas, yang kemudian diikuti pernafasan teratur. Pada asfiksia sedang dan berat usaha nafas tidak tampak sehingga bayi berada dalam periode appnoe yang kedua, dan ditemukan pula bradikardi dan penurunan tekanan darah.             Disamping perubahan klinis juga terjadi gangguan metabolisme dan keseimbangan asam dan basa pada neonatus. Pada tingkat awal menimbulkan asidosis respiratorik, bila gangguan berlanjut terjadi metabolisme anaerob yang berupa glikolisis glikogen tubuh, sehingga glikogen tubuh pada hati dan jantung berkurang. Hilangnya glikogen yang terjadi pada kardiovaskuler menyebabkan gangguan fungsi jantung. Pada paru terjadi pengisian udara alveoli yamh tidak adekuat sehingga menyebabkan resistensi pembuluh darah paru. Sedangkan di otak terjadi kerusakan sel otak yang dapat menimbulkan kematian atau gejala sisa pada kehidupan bayi selanjutnya.

  1. Manifestasi klinis Asfiksia neonatorum

Bayi tidak bernafas atau nafas megap-megap, denyut jantung kurang dari 100x/menit, kulit sianosis, pucat, tonus otot menurun, tidak ada respon terhadap refleks rangsangan.

1. serangan jantung

2. Periode hemorragis

3. Sianosis dan kongestif

4. Penemuan jalan nafas

Diagnosis Asfiksia neonatorum

Anamnesis: Gangguan / kesulitan waktu lahir tidak bernafas/menangi

Pemeriksaan fisik Asfiksia neonatorum

Klinis 0 1 2

Detak jantung Tidak ada 100x/menit

Pernafasan Tidak ada Tak teratur Tangis kuat

Refleks saat jalan nafas dibersihkan Tidak ada Menyeringai Batuk/bersin

Tonus otot Lunglai Fleksi ekstermitas (lemah) Fleksi kuat gerak aktif

Warna kulit Biru pucat Tubuh merah ektermitas biru Merah seluruh tubuh

Niali 0-3 : Asfiksia berat

Nilai 4-6 : Asfiksia sedang

Nilai 7-10 : Normal

Dilakukan pemantuan nilai apgar pada menit ke01 dan menit ke-5, bila nilai apgar 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor mencapai 7, nilai apgar berguna untuk menilai keberhasilan resustansi bayi baru lahir dan menetukan prognosis, bukan untuk memulai resustansi karena dimulai 30 detik setelah lahir bila bayitidak menangis ( bukan 1 menit seperti penilaian skor apgar ).

  1. Pemeriksaan penunjang Asfiksia neonatorum

1. Foto polos dada

2. USG kepala

3. laboraturium : Darah rutin, analisa gas darah, serum elektrolit

Pemeriksaan diagnostik Asfiksia neonatorum

1. Analisa gas darah

2. Elektrolit darah

3. Gula darah

4. Baby gram

5. USG ( Kepala )

6. Penilaian APGAR score

7. Pemeriksaan EGC dab CT- Scan

  1. Komplikasi Asfiksia neonatorum

Meliputi berbagai organ yaitu:

1. Otak : Hipokstik iskemik ensefalopati, edema serebri, palsi serebralis

2. Jantung dan paru: Hipertensi pulmonal persisten pada neonatorum, perdarahan paru, edema paru

3. Gastrointestinal: enterokolitis, nekrotikans

4. Ginjal: tubular nekrosis akut, siadh

5. Hematologi: dic

  1. Penatalaksanaan Asfiksia neonatorum

Cegah pelepasan panas yang berlebihan, keringkan ( hangatkan ) dengan menyelimuti seluruh tubuhnya terutama bagian kepala dengan handuk yang kering

Bebaskan jalan nafas : atur posisi, isap lendir

Bersihkan jalan nafas bayi dengan hati-hatidan pastikan bahwa jalan nafas bayi bebas dari hal-hal yang dapat menghalangi masuknya udara kedalam paru-paru. Hal ini dapat dilakukan dengan:

Ø Ekstensi kepaladan lehert sedikit lebih brendah dari tubuh bayi  Hisap lendir, cairan pada mulut dan hidung bayi sehingga jalan nafasØ bersih dari cairan ketuban, mekonium/ lendir dan menggunakan penghisap lendir Delee

Rangsangan taktil, bila mengeringkan tubuh bayi dan penghisapan lendir/ cairan ketuban dari mulut dan hidung yang dasarnyan merupakan tindakan rangsangan belumcukup untuk menimbulkan pernafsan yang adekuat padabayi lahir dengan penyulit, maka diperlukan rangsangan taktil tambahan. Selama melakukan rangsangan taktil, hendaknya jalan nafas sudah dipastikan bersih. Walaupun prosedur ini cukup sederhana tetapi perlu dilakukan dengan cara yang betul. Ada 2 cara yang memadai dan cukup aman untuk memberikan rangsangan taktil, yaitu:  Menepukan atau menyentil telapak kaki dan menggosok punggung bayi.Ø Cara ini sering kali menimbulkan pernafasan pada bayi yang mengalami depresi pernafasan yang ringan  Cara lain yang cukup aman adalah melakukan penggosokan pada punggungØ bayi secara cepat, mengusap atau mengelus tubuh, tungkai dan kepala bayi juga merupakan rangsangan taktil tetapi rangsangan yang ditimbulkan lebih ringan dari menepuk, menyentil, atau menggosok. Prosedur ini tidak dapat dilakukan pada bayi yang appnoe, hanya dilakukan pada bayi yang telah berusaha bernafas. Elusan pada tubuh bayi, dapat membantu untuk meningkatkan frekuensi dari dalamnya pernafasan.

 

IBI dalam pandangan agama

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Etika Profesi adalah menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan atau tidak, tidak tergantung pada hadir tidaknya orang lain,bersifat absolute artinya prinsip etika tidak dapat ditawar berlakunya. Tidak hanya memandang segi lahiriah tapi juga batiniahnya. Fungsi etika untuk mencapai suatu pendirian dalam pergolakan pandangan pandangan moral yg berupa refleksi kritis. Membantu agar kita jangan kehilangan orientasi, dapat membedakan antara apa yang hakiki dan apa yg boleh saja berubah dan dengan demikian kita tetap sanggup untuk mengambil sikap sikap yang dapat kita pertanggung jawabkan, membuat kita sanggup untuk menghadapi ideologi ideologi yang buruk dengan kritis dan obyektif dan untuk membentuk penilaian sendiri agar kita tidak terlalu mudah terpancing serta membantu kita jangan naif.
Hukum kesehatan adalah semua ketentuan hukum yang berhubungan langsung dengan pemeliharaan/pelayanan kesehatan dan penerapannya serta hak dan kewajibannyabaik dari perorangan dan segenap lapisan masyarakat sebagai penerima layanan kesehatan maupun dari pihak penyelanggara pelayanan kesehatan dalam segala aspek meliputi organisasi, sarana, pedoman medis, nasional/internasional,hukum dibidang kesehatan, yurisprudensi, serta ilmu pengetahuan bidang kedokteran,kebidanan,keperawatan atau kesehatan lainnya.
Dengan adanya etika profesi dan hukum kesehatan kita dapat mengerti bahwa tiap keputusan yang diambil oleh penyelenggara pelayanan kesehatan harus berdasarkan etika profesi dan hukum kesehatan yang telah diatur dalam undang undang negara serta menjamin pasien atau klien untuk mendapat pelayanan yang terbaik sesuai dengan kode etik. Dengan kita mempelajari beberapa kasus dan membahas serta memahaminya kita dapat mengetahui benar tidaknya langkah seorang petugas kesehatan dalam pelayanan maupun kinerjanya sesuai kode etik atau malah menyimpang dari beberapa aspek meliputi segi hukum segi agama dan segi etika profesi.

B. Perumusan Masalah
1. Bagaimana pandangan segi hukum menilai sebuah tindakan profesi dalam sebuah kasus?
2. Bagaimana pandangan segi agama menilai sebuah tindakan profesi dalam sebuah kasus?
3. Bagaimana pandangan segi etika menilai sebuah tindakan profesi dalam sebuah kasus?

C. Tujuan
1. Untuk lebih memamhami tentang etika profesi dan hukum kesehatan
2. Untuk lebih mengetahui dan memahami tugas tenaga kesehatan dan penyelenggara pelayanan kesehatan
3. Untuk memahami lebih kritis tentang kasus tenaga kesehatan atau penyelanggara kesehatan dan dapat membuat keputusan kode etik yang sesuai dengan hukum kesehatan.
4. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika profesi dan hukum kesehatan.


BAB II
ISI
STUDY KASUS DARI BERBAGAI SEGI

Ø STUDY KASUS :
Seorang Bidan melakukan pekerjaan sangat baik dan professional, namun tidak dilandasi keinginan untuk menyembuhkan pasiennya, tapi karena tergiur jabatan tertentu dan insentif tertentu. Suatu ketika jabatan dan insentif diturunkan, kerjanya menjadi tidak karuan.

 MENURUT SEGI HUKUMØ :
Maka tindakan Bidan pada kasus tersebut tidak sesuai dengan kompetensi Bidan yang seharusnya memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan pasien (kompetensi Bidan/IBI tahun 2000)

Pada pasal 24UU Kesehatan No.36 tahun 2009 menyebutkan bahwa : Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 23 harus memenuhi ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standart pelayanan prosedur dan standart prosedur operasional.
Seharusnya Bidan bertindak seperti yang disebutkan pada pasal diatas, menjadi Bidan yang profesional.

 MENURUT SEGI AGAMA :Ø
1. AGAMA ISLAM
Tidak adanya keikhlasan dalam bekerja, di dalam agama, apabila bekerja tidak dilandasi dengan rasa keikhlasan maka akan sia-sia ia bekerja dan tidak akan membuahkan hasil yang baik. Seperti yang disebutkan dalam agama islam dalam surat Huud ayat 15-16 bahwa:”Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasaanya, niscahya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka didunia dengan sempurna dan mereka didunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh dikahirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan didunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” [Huud:15-16].

2. AGAMA BUDDHA
Jika kita membandingkan ambisi-ambisi kita dengan ambisi atau tujuan (cita-cita) seorang Buddha, kita dapat melihat perbedaan yang sangat mencolok, karena sebagian besar tujuan kita didasarkan atas keinginan-keinginan (nafsu-nafsu). Kita mengembangkan ambisi-ambisi dengan mengabaikan kebahagiaan orang lain dan bekerja berdasarkan rasa keakuan untuk mencapai kebahagiaan diri sendiri tanpa mengindahkan perasaan orang lain. ltulah cara kita yang akan menimbulkan masalah-masalah yang sangat besar dan kesengsaraan-kesengsaraan di dunia ini. Kita bersedia mengerjakan segala jenis kejahatan, kekejian, kekejaman atau perbuatan-perbuatan yang berbahaya hanya sekadar untuk memberikan kesenangan pada diri sendiri. Sehingga dari segi pandangan Buddhis, jenis ambisi yang egoistis ini tidak dapat dibenarkan. Buddha telah menerangkan bahwa ada salah satu macam kesenangan duniawi yang perumah tangga dapat alami: Kebahagiaan pertama adalah jaminan atas kenikmatan keuangan atau mendapat kekayaan yang didapat dengan cara yang benar (Atthi-Sukha)
3. AGAMA HINDU
Oleh karena prisip kerja itu adalah anugerah Tuhan, pekerjaan mesti dilaksanakan dengan tulus dan bakti. Bekerja didasari atas kesadaran Tuhan, tentu lebih mulia dibandingkan dengan bekerja dengan hanya mementingkan hasil. Lagi pula, bekerja bagi Hindu bukan semata-mata mencapai hasil, tetapi menjalankan swadharma. Manusia dengan segala kemauan dan pikirannya dapat saja menghindar dan konsep tersebut namun hukum karma tetap akan mengikutinya karena sang dinilah yang akan mencatat baik dan buruk karma yang diperbuatnya tersebut sehingga manusia dalam kehidupannya hendaklah tidak berhenti untuk beraktivitas atau berbuat baik dan benar, dengan kata lain berbuat Subha karma.
4. AGAMA KATOLIK
Berkeyakinan bahwa Allah menciptakan dan mencintai tiap-tiap orang secara pribadi, Karena itu, setiap manusia haruslah saling menghormati, mencintai ,bekerja keras melalui kebenaran kudus dan melindungi hidup sesamanya tanpa mengenal status sosial atau kedudukan apa pun, Kita harus sadar bahwa setiap orang memiliki hak asasi untuk hidup, Hak hidup manusia harus dilindungi sejak dari awal (dalam kandungan).

5. AGAMA KRISTEN
Pandangan orang Kristen tentang jabatan dan materi yaitu bahwa jabatan dan materi kita miliki agar kita bisa menggunakannya dengan cara-cara yang mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Jabatan dan materi bukan sesuatu yang atasnya kita mempunyai kekuasaan penuh; kita hanyalah penatalayan kekayaan Allah. Ilustrasi yang baik tentang prinsip ini terdapat dalam perumpamaan tentang talenta, yang menunjukkan bahwa uang yang kita peroleh karena kerja sekalipun bukan merupakan milik kita sebab Allahlah yang sebenarnya memberikan kita kesempatan untuk memperolehnya.

 MENURUT SEGI ETIKA :Ø
Bidan dalam kasus tidak mempunyai nilai personal yang berlandaskan kemandirian moral dan kesediaan untuk bertanggung jawab.Kode etik suatu profesi adalah berupa norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi yang bersangkutan didalam melaksanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat.
Yang dilakukan oleh Bidan tersebut dalam kasus merupakan tindakan yang tak patut karena hanya mengejar jabatan belaka, kita ditugaskan untuk melayani masyarakat. Menolong pasien dengan profesionalitas merupakan kode etik pertama bagi seorang Bidan atau tenaga kesehatan lainnya, karena kita di sumpah untuk melayani masyarakat atau pasien dengan sebaik mungkin yang merupakan hak pasien. Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya. Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan pelaksanaan – tugasnya, dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal.

 MENURUT SEGI SOSIAL :Ø
Masyarakat memandang Bidan yang tak profesional dan hanya menginginkan jabatan/materi merupakan sebuah ketamakan kita tak seharusnya membiarkan orang sakit dan hanya peduli pada keegoisan kita belaka karena kita makhluk sosial yang akan terus saling membutuhkan karena itu adalah hukum dan norma sosial yang berlaku sejak dahulu kala hingga sekarang, sesungguhnya masyarakat sekarang mempunyai pikiran kritis akan nilai- nilai kemanusian dan hak mereka sebagai pasien.

BAB III
PEMBAHASAN
STUDY KASUS DARI BERBAGAI SEGI
 STUDY KASUSØ :
Seorang Bidan melakukan pekerjaan sangat baik dan professional, namun tidak dilandasi keinginan untuk menyembuhkan pasiennya, tapi karena tergiur jabatan tertentu dan insentif tertentu. Suatu ketika jabatan dan insentif diturunkan, kerjanya menjadi tidak karuan.
 MENURUT SEGI HUKUM :Ø
Maka tindakan Bidan pada kasus tersebut tidak sesuai dengan kompetensi Bidan yang seharusnya memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan pasien (kompetensi Bidan/IBI tahun 2000). Pada pasal 24UU Kesehatan No.36 tahun 2009 menyebutkan bahwa: Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 23 harus memenuhi ketentuan kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standart pelayanan prosedur dan standart prosedur operasional.Seharusnya Bidan bertindak seperti yang disebutkan pada pasal diatas, menjadi Bidan yang profesional.
 MENURUTØ SEGI AGAMA :
1. AGAMA ISLAM
Tidak adanya keikhlasan dalam bekerja, di dalam agama, apabila bekerja tidak dilandasi dengan rasa keikhlasan maka akan sia-sia ia bekerja dan tidak akan membuahkan hasil yang baik.
2. AGAMA BUDDHA
karena sebagian besar tujuan kita didasarkan atas keinginan-keinginan (nafsu-nafsu). Kita mengembangkan ambisi-ambisi dengan mengabaikan kebahagiaan orang lain dan bekerja berdasarkan rasa keakuan untuk mencapai kebahagiaan diri sendiri tanpa mengindahkan perasaan orang lain.
3. AGAMA HINDU
Oleh karena prisip kerja itu adalah anugerah Tuhan, pekerjaan mesti dilaksanakan dengan tulus dan bakti. Bekerja didasari atas kesadaran Tuhan, tentu lebih mulia dibandingkan dengan bekerja dengan hanya mementingkan hasil. Lagi pula, bekerja bagi Hindu bukan semata-mata mencapai hasil, tetapi menjalankan swadharma.

4. AGAMA KATOLIK
Berkeyakinan bahwa Allah menciptakan dan mencintai tiap-tiap orang secara pribadi, Karena itu, setiap manusia haruslah saling menghormati, mencintai ,bekerja keras melalui kebenaran kudus dan melindungi hidup sesamanya tanpa mengenal status sosial atau kedudukan apa pun, Kita harus sadar bahwa setiap orang memiliki hak asasi untuk hidup, Hak hidup manusia harus dilindungi sejak dari awal (dalam kandungan).
5. AGAMA KRISTEN
Pandangan orang Kristen tentang jabatan dan materi yaitu bahwa jabatan dan materi kita miliki agar kita bisa menggunakannya dengan cara-cara yang mendatangkan kemuliaan bagi Allah.
 MENURUT SEGI ETIKA :Ø
Bidan dalam kasus tidak mempunyai nilai personal yang berlandaskan kemandirian moral dan kesediaan untuk bertanggung jawab. Yang dilakukan oleh Bidan tersebut dalam kasus merupakan tindakan yang tak patut. Menolong pasien dengan profesionalitas merupakan kode etik pertama bagi seorang Bidan atau tenaga kesehatan lainnya, karena kita di sumpah untuk melayani masyarakat atau pasien dengan sebaik mungkin yang merupakan hak pasien.
 MENURUT SEGI SOSIAL :Ø
Masyarakat memandang Bidan yang tak profesional dan hanya menginginkan jabatan/materi merupakan sebuah ketamakan kita tak seharusnya membiarkan orang sakit dan hanya peduli pada keegoisan kita belaka karena kita makhluk sosial yang akan terus saling membutuhkan karena itu adalah hukum dan norma sosial.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang kami dapat adalah menanggapi kasus Seorang Bidan melakukan pekerjaan sangat baik dan professional, namun tidak dilandasi keinginan untuk menyembuhkan pasiennya, tapi karena tergiur jabatan tertentu dan insentif tertentu. Suatu ketika jabatan dan insentif diturunkan, kerjanya menjadi tidak karuan dapat dinilai dan dipandang dari berbagai segi yang ada pada hukum, etika, agama, dan sosial.

B. Saran
1. Meningkatkan tingkat moral tenaga kesehatan berdasarkan etika profesi yang berlaku dan dapat melaksanakannya.
2. Mengantisipasi tindakan yang menyimpang dan tidak sesuai dengan kode etik yang berlaku dalam hukum dan masyarakat.

IBI (ikatan bidan indonesia)

A. Pembentukan organisasi

Pada tanggal 15 september 1950 di Rumah Sakit Bersalin Budi Kemuliaan Jakarta, para bidan melaksanakan pertemuan dan bersidang serta melahirkan kesepakatan untuk membentuk suatu wahana Ikatan Bidan Indonesia (IBI) pada pertemuan dan persidangan yang pertama ini telah disusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang mencantumkan bahwa:

1. Asaz ikatan bidan Indonesia adalah Pancasila.

2. Tujuan pendirian IBI adalah:

a. Menghidupkan rasa persaudaraan sesama bidan.

b. Memelihara, mengembangkan, dan menghidupkan pengetahuan bidan dalam kalangan anggota.

c. Menyokong dan kerjasama dengan pemerintah dan menjaga kesehatan masyarakat.

d. Mempertinggi derajat dan kedudukan bidan dalam masyarakat.

3. Upaya-upaya yang dilaksanakan menurut pasal 3 AD/ART 1950 adalah:

a. Mengatur pertolonagan persalinan untuk masyarakat.

b. Memperbaiki kesehatan Ibu dan Anak.

c. Memberi pimpinan kepada para dukun.

d. Melaksanakan seminar atau ceramah.

e. Mengadakan majalah.

f. Mengadakan perpustakaan.

g. Mengadakan pidato radio.

4. Susunan kepengurusan sesuai  pasal 4 AD/ART ditetapkan:

a. Ketua I

b. Ketua II

c. Penulis I

d. Penulis II

e. Bendahara

f. Juru periksa atau Komisaris

Kemudian pada tanggal 24 Juni 1951 dilakukan musyawarah untuk menentukan tujuan-tujuan IBI yaitu:

1. Menggalang persatuan dan persaudaraan antara bidan serat kaum wanita pada umumnya dalam rangka memperkokoh persatuan bangsa.

2. Membina pengetahua dan memperkokoh keterampilan anggota dalam profesi kebidanan, khususnya dalam pelayanan KIA serta kesejahteraan keluarga.

3. Membantu pemerintah dalam pembangunan nasional terutama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

4. Meningkatkan martabat dan kedudukan bidan dalam masyarakat.

Selain itu pada pertemuan tersebut juga diputuskan Visi dan Misi IBI antara lain sebagai berikut:

1. Membentuk organisasi  IBI yang bersifat nasional, seabgai organisasi satu-satunya yang merupakan wadah persatuan dan kesatuan bidan di Indonesia.

2. Pengurus besar IBI berkedudukan di Jakarta atau dimana pusat pemerintahan berada.

3. Meniadakan bidan kelas 1 maupun bidan kelas 2, yang ada hanya bidan.

4. Membentuk pengurus-pengurus didaerah.

5. Bidan harus bekerja sesuai dengan profesi, apabila bekerja dibidang perawatan harus mengikuti pendidikan perawat selama 2 tahun, demikian apabila perawat bekerja dikebidanan harus mengikuti pendidikan bidan selama 2 tahun.

Adapun tokoh-tokoh yang tercatat sebagai pemrakarsa konferensi tersebut adalah: Ibu Selo Salikun, Ibu Fatimah, Ibu Sri Mulyani, Ibu Sukaesih, Ibu Ipah dan Ibu S.Marguna.

Tiga tahun setelah konfrensi, tepatnya pada tanggal 15 Oktober 1954, IBI diakui sah sebagai organisasi yang berbadan hokum dan tertera dalam lembaga Negara nomor : J.A.5/927 (Departemen Dalam Negeri) dan pada tahun 1956 IBI diterima sebagai anggota ICM (International Confederation of Midwives). Hinga saat ini IBI tetap mempertahankan keanggotaan ini, dengan cara senantiasa berpartisipasi dalam kegiatan ICM yang dilaksanakan di berbagai Negara baik pertemuan pertemuan, loka karya, pertemuan regional maupun kongres tingkat dunia dengan antara lain menyajikan pengalaman dan kegiatan IBI IBI yang seluruh anggotanya terdiri dari wanita telah tergabung dengan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) pada tahun 1951 hingga saat ini IBI tetap aktifmendukung program-program KOWANI bersama organisasi wanita lainnya dalam meningkatkan derajad kaum wanita Indonesia. Selain itu sesuai dengan Undang-Undang RI No.8 tahun 1985, tentang organisasi kemasyarakatan maka IBI dengan nomor 133 terdaftar sebagai salah satu Lembaga Sosial Masyarakat di Indonesia. Begitu juga dalam Komisi Nasional Kedudukan Wanita di Indonesia (KNKWI) atau National Commission on the Status of Women (NCSW) IBI merupakan salah satu anggota pendukungnya.

Pada kongres IBI yang kedelapan yang berlangsung di Bandung tahun 1982, terjadi perubahan nama Pengurus Besar IBI diganti Pengurus Pusat IBI, karena IBI telah memiliki 249 Cabang yang tersebar di seluruh propinsi di Indonesia. Selain kongres juga mengukuhkan anggota pengurus Yayasan Buah Delima yang didirikan pada tangal 27 Juli 1982. Yayasan ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan anggota IBI, melalui pelaksanaan berbagai kegiatan.

Pada tahun 1985, untuk pertama kalinya IBI melangsungkan kongres diluar pulau Jawa, yaitu di kota Medan (Sumatera Utara) dan dalam kongres ini juga didahului dengan pertemuan ICM Regional Meeting Western Pacific yang dihadiri oleh anggota ICM dari Jepang, Australia, New Zealand, Philiphina, Malaysia, Brunei Darussalam dan Indonesia. Bulan September 2000 dilaksanakan ICM Asia Pacific Regional Meeting di Denpasar Bali. Pada tahun 1986 IBI secara organisatoris mendukung pelaksanaan pelayanan Keluarga Berencana oleh Bidan Praktek Swasta melalui BKKBN.

Gerak dan langkah Ikatan Bidan Indonesia di semua tingkatan dapat dikatakan semakin maju dan berkembang dengan baik. Sampai dengan tahun 1998 IBI telah memiliki 27 Pengurus Daerah, 318 Cabang IBI (di tingkat Kabupaten/Kodya) dan 1.243 Ranting IBI (di tingkat Kecamatan) dengan jumlah anggota sebanyak 66.547 orang. Jumlah anggota ini meningkat dengan pesat setelah dilaksanakannya kebijakan pemerintah tentang Crash Program Pendidikan Bidan dalam kurun waktu medio Pelita IV s/d Pelita VI 1989 s/d 1997.

 

 

 

 

PERKEMBANGAN JUMLAH ANGGOTA IBI

TAHUN 1988 – 2008

TAHUN

JUMLAH ANGGOTA

1988

16.413

1990

25.397

1994

46.114

1995

54.080

1996

56.961

1997

57.032

1998

66.547

2003

68.772

2008

87.338

Dari tahun ke tahun IBI berupaya untuk meningkatkan mutu dan melengkapi atribut-atribut organisasi, sebagai syarat sebuah organisasi profesi, dan sebagai organisasi masyarakat LSM yaitu :

1.      AD-ART, yang ditinjau, disempurnakan dan disesuaikan dengan perkembangan tiap 5 (lima) tahun sekali

2.      Kode Etik Bidan, yang ditinjau, disempurnakan dan disesuaikan dengan perkembangan tiap 5 (lima) tahun sekali.

3.      Pedoman berkelanjutan pendidikan Bidan

4.      Buku Prosedur Tetap pelaksanaan tugas-tugas bidan

5.      Buku Pedoman Organisasi

6.      Buku Pedoman Bagi Bidan di Desa

7.      Buku Pedoman Klinik IBI

8.      Buku 50 tahun IBI, yang memncatat tetntang sejarah dan kiprah IBI, diterbitkan dalam rangka menyambut HUT ke 50 IBI tahun 2001

9.      Restra IBI 1996 – 1998

Khusus melalui kepengurusan tahun 1998 – 2003 atribut-atribut/kelengkapan tersebut bertambah lagi dengan disusunnya :

1.      Majalah Bidan

2.      Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

3.      Buku Pedoman Maternal & Neonatal

4.      Buku Pedoman Keluarga Berencana

5.      Buku Pedoman Pencegahan Infeksi

6.      Buku Pedoman Asuhan Persalinan Normal

7.      Buku Kepmenkes 900

8.      Buku Kumpulan Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan Organisasi IBI

9.      Kepmenkes 237 tentang pemasaran pengganti air susu ibu

10. Kepmenkes 450 tentang Pemberian Air Susu Ibu Secara Eklusif Pada Bayi di Indonesia

11. Kepmenkes 900 tentang Regristrasi dan Praktek Bidan

12. Rensta IBI 1998 – 2003

Pada Kepengurusan tahun 2003 – 2008

Telah dihasilkan :

1.      Pedoman Uji Kompetensi Bidan

2.      Renstra 2008 – 2013

3.      Bidan Delima

4.      Kesehatan reproduksi up-date satu set (warna ungu)

5.      Inisiasi Menyusu Dini

6.      Modul Pembelajaran untuk DIII Kebidanan (kerja sama dengan YPKP)

7.      Kepmenkes 369 tentang Standar Profesi Bidan

8.      Kolegium Kebidanan

9.      Lahirnya Asosiasi Institusi Pendidikan Indonesia

Rencana Strategis IBI tahun 2008 – 2013

1.      Mengutamakan kebersamaan

2.      Mempersatukan diri dalam satu wadah

3.      Pengayoman terhadap anggota

4.      Pengembangan diri

5.      Peran serta dalam komonitas

6.      Mempertahankan citra bidan

7.      Sosialisasi pelayanan berkualitas

Prioritas Strategis

1.      Pengembangan standarisasi pendidikan bidan dengan standar internasional

2.      Meningkatkan pelatihan anggota IBI

3.      Membangun kerjasama dan kepercayaan dari donor dan mitra IBI

4.      Peningkatan advokasi kepada pemerintah untuk mendukung pengembangan profesi bidan serta monitoring dan evaluasi pasca pelatihan yang berkesinambungan

5.      Peningkatan pembinaan terhadap anggota berkaitan dengan peningkatan kompetensi, profesionalisme dan aspek hokum

6.      Peningkatan pengumpulan data dasar

7.      Peningkatan akses Organisasi Profesi IBI terhadap pelayanan dan pendidikan kebidanan

8.      Capacity Building bagi pengurus IBI

9.      Peningkatan pengadaan sarana prasarana

10. Membangun kepercayaan anggota IBI, donor dan mitra dengantetap menjaga mutu pengelolaan keuangan yang accountable

Sejak berdirinya tahun 1951 hingga sekarang, IBI telah berhasil menyelenggarakan Kongres Nasional sebanyak 14 kali. Sesua dengan Anggaran Dasar IBI, pada setiap kongres merencanakan program kerja dan pemilihan Ketua Umum Pengurus Pusat IBI. Rekapitulasi tempat penyelenggaraan Kongres Nasional IBI dan Ketua Umum Terpilih, sebagai berikut ini :

DAFTAR PELAKSANAAN KONGRES IBI

Kongres

Tahun

Tempat

Ketua Terpilih

Munas

1951

Jakarta

Ibu Fatimah Muin

I

1953

Bandung

Ibu Ruth Soh Sanu

II

1955

Malang

Ibu Selo Soemardjan

III

1957

Yogyakarta

Ibu Tuti Sutijati

IV

1961

Lawang – Malang

Ibu Rukmini

V

1969

Jakarta

Ibu Rukmini

VI

1975

Jakarta

Ibu Rabimar Juzar Bur

VII

1978

Jakarta

Ibu Rabimar Juzar Bur

VIII

1982

Bandung

Ibu Samiarti 

IX

November 1985

Medan

Ibu Samiarti

X

November 1988

Surabaya

Ibu Rabimar Juzar Bur

XI

Oktober 1993

Ujung Pandang

Ibu Nisma Chairil Bahri

XII

September 1998

Denpasar

Ibu Wastidar Mubir

XIII

7-11 Sept 2003

Jakarta

Ibu Dra. Hami Koesno, MKM

XIV

2-6 Nov 2008

Padang

Ibu Dra. Hami Koesno, MKM